Cerita tentang seorang wanita yang diceritakan dengan berantakan

Menelan waktu temaram sedang giat dilakukan oleh seorang wanita yang lelah berlari di tempat dengan mata tertutup.

Wanita tersebut telah terbiasa dengan angin hampa dan awan monokrom di atas ubun-ubunnya.

Badai pernah datang dan memasuki rumahnya bahkan tanpa merusak pintu terlebih dahulu.

Tergesa-gesa dan tiba-tiba. Sebelum wanita itu dapat bersembunyi atau bertanya: “Apa yang terjadi?”

Wanita itu menghadapi belantara dengan sukma yang tersisa.

Badai itu menghisap semua emosi dan adrenalinnya. Hingga ia lelah untuk berusaha untuk tidak lelah tanpa lelah untuk menyanyikan kesedihan.

Pemilik dua pasang telinga yang bosan mendengar senandung pilu itu mengirimkan satu paket langit cerah beserta sebuah gramofon dengan piringan hitam berisi lagu pesta.

Wanita itu sama bosannya.

Ia ingin menggerakkan kakinya untuk maju, membuat jejak baru.

Namun, awan sendu itu terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

Awan putih itu terlalu menakutkan untuk dijelang.

Baginya sendu itu nyaman. Dan aman.

Sepucuk daun kenari pernah berkata padanya: “Badai hanya menghampiri langit cerah dengan awan putih yang bersandar.”