Dua ribu sebelas kuibaratkan sebagai menjahit.
Tak peduli tanganku berdarah berkali-kali tertusuk.
Tak peduli sulitnya memasukkan benang ke lubang jarum yang sempit.
Aku tetap menjahit bahagia.
Dari sebuah kain utuh di awal Januari 2010, kemudian compang-camping akibat hari yang tidak selurus jalan bebas hambatan.
Akibat amarah dan airmata yang berjalan bergantian. (sekilas seperti judul lagu Alone At Last)
Akibat duka yang tak pernah absen menyalip dibalik suka.
Aku jahit sendiri kain itu tanpa henti.
Benang-benang kebahagian itu kucari dan kurangkai sendiri. Dengan tangan ini.
Kadang jariku tertusuk jarum jahit. Sehingga bahagianya tertunda. Pahit.
Kadang benangnya tak bisa kumasukkan ke dalam lubang jarum jahit yang sempit. Kecewa. Pahit.
Namun, ketika aku berhasil menjahit dengan sempurna.
Bahagianya tak terkira.
Tahun menjahit. Menjahit bahagia.
Tahun depan tahun mencat langit-langit.
Semoga tangga yang kubuat cukup tinggi dan kokoh, sehingga bisa mencapai langit-langit itu.
Kemudian kuwarnai dengan warna-warna kesukaanku.
Semoga tahun depan menjadi tahunku. Amin.